Sakit hati merupakan “keteledoran”, kita yang teledor menempatkan
hati ditempat yang salah.
Bagaimana jika “keteledoran” itu merupakan kebiasaan? Bagaimana
jika bukan tempatnya yang salah, Tapi justru hati kita yang selalu salah dalam
memilih tempat? Bagaimana jika semuanya benar namun letak kesalahannya ada pada
waktu?
Bagaimana jika sakit hati itu merpakan kesalahan dari rasa tak
bertuan yang terpelihara, tumbuh dengan suburnya meski terabaikan? Bagaimana jika
sakit hati itu merupakan kesalahan dari rasa memiliki meski nyatanya hanya
ilusi? Bagaimana jika rasa sakit hati itu merupakan kesalahan dari ego yang
enggan mengalah?
Nah bagaimana jika sakit hati itu merupakan kesalahan AKU
SENDIRI? Aku yang dengan gamblangnya memelihara rasa untukmu, menjaga meski
nyatanya kamu juga memelihara rasa yang sama (tapi untuknya), aku yang dengan
tulus menyirammu dengan senyum meski nyatanya kau kadangkala meracuni dengan
acuhmu, aku yang dengan harap menempatkan pot yang paling indah dihalamanku,
tapi bunga yang ingin kutanam justru terlihat subur dipekarangan orang lain.
Aku tidak cemburu karena memang dari awal kita tidak saling
memiliki, hanya saja sakit hati terus menyusahkanku, meski berulang kali
kutepis. aku tau bahwa sakit hati itu tidak akan pernah ada jika bukan rasa memiliki yang mengawalinya, tapi maaf karena dari awal aku memang ingin memilikimu..
UZ.M
